Friday, June 6, 2008
posted by iroquist de aNt0 at 3:55 PM | Permalink
Kemegahan Tuan Rumah Tanpa Mahkota

Berbagai atraksi sudah disiapkan di St. Jakob Park, Basel, saat pembukaan Euro 2008 pada 7 Juni. Perhelatan ke-13 ini dimulai dengan mempertemukan tuan rumah Swiss melawan Ceska.
Grup A dihuni Swiss, Ceska, Turki, dan Portugal. Dua tim dari grup ini akan melangkah ke perempatfinal. Adakah satu tiket menjadi milik tuan rumah, negeri cokelat dan bank itu? Sebuah perjuangan sudah dimulai menghadapi medan yang amat berat.
Gawang Ceska, yang dijaga salah satu kiper terbaik dunia, Petr Cech, rasanya akan sulit ditembus Eren Derdiyok cs. Sejauh ini Swiss belum membukukan catatan berarti di arena Piala Eropa. Dua kali lolos ke putaran final tapi selalu terhambat di babak awal.
Berbeda dengan Ceska, yang dilatih seorang kakek bernama Karel Bruckner (68). Tim ini empat tahun silam di Portugal maju ke semifinal. Deretan pemainnya sudah teruji dan berlaga di kompetisi Eropa Barat yang ketat.
Dua lawan berikutnya adalah peraih medali perunggu Piala Dunia 2002, Turki. Walau sudah berdamai usai keributan di lorong menuju ruang ganti pada penyisihan Piala Dunia 2006, api sebal masih tersisa. Pasukan Fatih Terim menyimpan ambisi besar mencetak kemenangan atas Swiss.
Melawan Portugal? Tipis harapan Swiss dapat menyingkirkan tim yang dinakhodai Filipe Scolari itu. Saat ini Portugal sedang berbunga dengan banyak pemain kelas satu Eropa. Sebut saja nama sang kapten Cristiano Ronaldo, ada lagi Ricardo Carvalho, Pepe, atau Deco.
Melihat fakta ini, sangat sulit bagi Jakob Kuhn mencari celah lolos ke babak berikut. Tiga lawan yang memiliki reputasi internasional amatlah kokoh untuk ditembus.
***
Orang akan menuding Josef Hickersberger sudah sedeng jika berharap menjuarai Euro 2008. Pelatih Austria itu tentu sadar, walau di hati kecilnya penuh harap.
Austria, tuan rumah bersama Swiss, menjadi sorotan khusus. Negeri yang dikelilingi Pegunungan Alpen bersalju itu belum memiliki kesebelasan berkualitas. Hanya karena menjadi tuan rumah, Wunderteam berhak berlaga di putaran final.
Dalam sejarah Piala Eropa, yang dimulai 1960, Austria belum pernah lolos ke putaran final. Apakah catatan ini menjadi harga mati sehingga Alex Manninger cs. hanya sebagai pelengkap dan tidak berpeluang lolos ke perempatfinal?
Berada di Grup B bersama Jerman, Kroasia, dan Polandia memang sangat berat. Kalkulasi apa yang akan dipakai Josef untuk keluar dari jepitan tiga raksasa di depannya?
Pertandingan pertama 8 Juni di Stadion Vienna melawan Kroasia. Menghadapi Zlatno Kranjcar cs. rasanya sulit bagi Andreas Ivanschitz cs. mencetak kemenangan atas peringkat tiga Piala Dunia 1998 itu. Mampu mencuri satu poin dengan hasil draw sudah merupakan pencapaian luar biasa.
Kondisi hampir sama saat menghadapi Jerman. Menghadapi tim dengan kemampuan nyaris komplet di segala lini, pasukan Josef ini akan kesulitan mencari titik lemah. Karena itu, harapan mencuri hasil seri sangat sulit, apalagi untuk mengejar kemenangan.
Satu harapan tersisa adalah memaksakan kemenangan atas sesama pendatang baru di Piala Eropa, Polandia. Pasukan Leo Beenhakker itu menunjukkan kemajuan pesat, namun masih labil. Ini terlihat tatkala dipukul Amerika Serikat 0-3 dalam uji coba di depan publik sendiri, Krakow.
Melihat kalkulasi seperti ini, target realistis Wunderteam adalah peringkat tiga grup. Dalam hitungan kasar, dua kekalahan datang dari Jerman dan Kroasia, lalu memaksakan satu kemenangan atas Polandia.
***
Dari gambaran di atas, boleh dikatakan bahwa tuan rumah, Austria dan Swiss, hanya sebagai bumbu pelengkap!
Ini tentu hanyalah perhitungan berdasarkan catatan prestasi. Kalaupun hasil akhir sangat berbeda, itu wajar. Siapa menduga, misalnya, ada pemain dari tim unggulan mendapat kartu merah atau peristiwa lain.
Sebagai tuan rumah, Austria dan Swiss tentu berharap lebih. Bukan hanya kesuksesan sebagai penyelenggara, tapi juga mendorong timnya melangkah ke babak berikut atau jika mungkin hingga pertandingan akhir dan juara.
Kalaupun dua negeri berhawa dingin ini terjegal di babak awal, bukan berarti tak ada catatan menarik bagi mereka. Euro 2008 kali ini justru tercatat sebagai motor pendorong gerak ekonomi Eropa yang sangat besar. Sepakbola telah bertransformasi sebagai megaindustri.
Master Card Inc. sebagai salah satu sponsor yang berlangsung hingga 29 Juni itu memaparkan data. Diperkirakan selama kejuaraan gerak ekonomi meningkat sekitar 1,4 miliar euro atau setara dengan 20,3 triliun rupiah.
Empat tahun silam di Portugal, tuan rumah menangguk keuntungan sebesar 800 juta euro atau sekitar 11,2 triliun perak. Perputaran uang sebesar itu datang lewat penjualan jasa hotel, transportasi, merchandise, makanan, hingga penjualan tiket yang sangat mahal.
Bukan hanya itu, 16 tim yang tampil di putaran final ini mendapat insentif jauh lebih besar dibanding empat tahun silam. Di Portugal, total hadiah kepada peserta secara gradual adalah 129 juta euro. Jumlah ini dilipatkan menjadi 184 juta euro atau dalam rupiah sekitar 2,67 triliun.
Jadi, sekalipun Austria dan Swiss tak memiliki mahkota, kemegahan tetap lahir di sana.

