Monday, December 31, 2012
posted by iroquist de aNt0 at 8:30 AM | Permalink
12.12.12 - Ada Cerita di Tasikmalaya
Sedikit terpisah
dari kumpulan teman-teman, saya duduk di sebuah kursi. Menyalakan
sebatang rokok. Kemudian menunduk menatap tanah sambil menghembuskan
asapnya secara perlahan. Lalu tiba-tiba seseorang menepuk pundak, saya
pun mengangkat kepala mencoba melihat tuan tangan. Saya dapati seraut
wajah tampan memancarkan roman kebahagiaan yang memang tak asing buat
saya. Dia adalah Raja di hari itu, sang pengantin, H. Ilan MF.
“Temen-temen pada kemana?” ia bertanya dengan wajah yang tetap berseri-seri.
“Tadi Asrori di sini, makan siomay. Cuma sekarang keknya di sana” saya menjawab dengan disertai gerakan kepala menunjukan sekitar sound system. Ilan pun mengedarkan pandangannya kesana. Lalu terlihat Rubi, Nadhir, Mimif, Asrori, dan Ayyubi tampak asyik bercengkrama. Mungkin mereka sedang membicarakan harga kayu jati, atau bisa jadi mereka sedang membicarakan rencana berlibur ke pedalaman Papua, yang pasti mereka tidak sedang membicarakan Jorge Lorenzo yang berhasil memenangi gelar MotoGP 2012.
Ilan mengambil kursi yang tak jauh di belakangnya. Lalu ia pun duduk di dekat saya. Kami duduk selayaknya dua pria yang memang bukan gay. Sembari mengedarkan pandangan ke sekitar kami.
“Jadi, gimana rasanya setelah resmi menjadi seorang suami?” saya membuka percakapan.
A Ilan tak menjawab hanya tersenyum tipis.
“A atuh A,,, certain. Sharing gitu kek. Bagi pengalaman” saya memasang pokerface. Ehh…sebentar pokerface itu kalo pake emoticon itu kek gini bukan sih “ :| “ ?. ahh sudahlah,, toh pertanyaan gimana cara bikin pokerface pake emoticon tak akan pernah masuk dalam daftar pertanyaan yang ditanyakan saat interview pilot Garuda Indonesia.
“Hmm,, saya udah nikah yaa sekarang mah?” Ilan berujar pelan tanpa disertai ekspresi pokerface. Jadi pokerface itu,,, duh,, hampura… jadi gak fokus gini. Pasti gara-gara nulis sambil dengerin Lady Gaga. Jadi pengen nulis pokerface terus. *matiin player
“Saya sudah cukup lama mengenal dia, To….” Ilan memulai ceritanya. “bahkan jauh sebelum pohon mangga di depan kantor Walikota Bandung ditanam” okeh,,, Ilan pun sepertinya kehilangan fokus. “Kami akhirnya memutuskan untuk menjalin sebuah komitmen. Dia ada dan menjadi saksi up and down kehidupan saya. Sampai tahun lalu, kami bertunangan dan mempersiapkan pernikahan”. Dari sorot matanya, saya tau, ia sedang mengenang.
“Setaun ini, benar-benar exciting banget, To..” Kata Ilan “Rasanya kalo kisah selama mempersiapkan itu dijadikan buku, mungkin bisa dijadikan 12 jilid yang tiap jilidnya berisi 450 Halaman!”. Lanjutnya diiringi tawa yang renyah.
“Ehh,, kang. Nanya dong” kata saya
“Nanya apaan, To?” Ilan menjawab sembari mengambil segelas es campur yang diberikan petugas catering. Mungkin dia haus.
“Saya mo nanya, bener gak sih,,, katanya kalo menjelang pernikahan itu orang bakal sering mendapat pertanyaan ‘serius? Gak bakal nyesel? Dan udah yakin’ gitu?”.
Ilan meletakan es campurnya, kemudian menjawab. “Kita jelas gak bisa, dan mungkin gak akan pernah bisa menutup mata dari apa yang terjadi di sekitar kita. Sudah banyak sekali di lingkungan tempat hidup terjadi kisah pernikahan yang gagal. Ada yang pacarannya lama kemudian harus kandas. Dan gak sedikit juga kisah yang ta’aruf-nya singkat, lama pernikahannya pun harus ended sesingkat ta’arufnya. Tapi kisah-kisah itu enggak mempengaruhi saya dan Neng Anid buat ngambil keputusan ini. Kami fight bersama, hingga hari ini, saya bisa mencium keningnya di hadapan tamu undangan tadi sambil berkata dalam hati ‘… we made it, Honey. We made it!’. Yaa,, saya bisa ngomong kek gini mungkin karena saya pengantinnya. Tapi terlepas dari itu, saya rasa, dan saya juga percaya, kami bisa melewatinya”.
“Yakin. Kalo buat saya, tidak ada yang namanya yakin penuh. Full. 100%. Enggak ada itu. Kalo kamu nanya ke orang soal yakin, terus dia bilang udah yakin banget, Full, 100%, ketahuilah, orang tersebut sebenarnya sedang berusaha berpikir positif dan biar terlihat positif aja. Karena ini pernikahan. Hal yang besar. Gak bisa Cuma mengandalkan keyakinan agar ini bisa terjadi. Saya dan Neng Anid memberikan 100% dari komunikasi, kompromi, komitmen dan kepercayaan untuk melangkah ke sini. Dan ketika sampai di hari ini pun, sebenarnya petualangan kami baru aja dimulai. Makanya banyak karangan bunga bertuliskan ‘SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU’ dikirim ke sini, karena mereka tau, dari sinilah sebenarnya episode baru dimulai”.
“Setelah tunangan, saya jadi semakin mengerti, bahwa hal yang paling dasar dalam membina sebuah hubungan adalah Komunikasi, Keintiman, Kepercayaan, Komitmen dan Kompromi. Cinta tidak saya jadikan sebagai fondasi hubungan. Karena sebuah hubungan, tidak akan pernah bisa berjalan hanya dengan sebuah ucapan ‘aku sayang padamu’ atau cuma dengan dinner di Suis Butcher-Steak House, Bandung. Ada banyak drama, conflict interest yang terjadi dalam sebuah hubungan. Hal yang bisa diprediksi sebenarnya, karena ada dua orang dengan latar dan pola pikir yang berbeda. Lebih jauhnya , ada dua keluarga besar yang harus disatukan jika kita bicara tentang pernikahan. Dapat dipastikan, hanya bermodal ‘aku cinta kamu, kamu cinta aku, kita nikah yuk’ jelas tidak akan pernah bisa berjalan dengan baik. Kecuali kamu adalah Ibnu Jamil dan lagi maen FTV”.
“Syaitan sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tak jarang membisikan godaan dengan menyusupkan keraguan dan rasa was-was ke dalam hati. Kadang mereka membisikan ‘udah jangan buru-buru. Siapa tau nanti ketemu yang jauh lebih baik’. Dan Alhamdulillah, Allah memberi saya kekuatan untuk meyakini bahwa terus-menerus mencari yang lebih baik hanyalah akan membuat kita kehilangan waktu dan tenaga tanpa pernah bisa menemukannya. Kamu pasti udah pernah baca atau minimal denger tentang ‘analogi kebun bunga’ kan?”
“iya. Terakhir saya baca di status FB Jamzuri, dia yang paling ketinggalan buat nge-repost tuhh.. “ saya berusaha mengingat.
“Nah. Iya itu,,, Tapi gini deh,, biar kesannya saya keren, dan obrolan kita makin panjang, saya akan ceritakan lagi yaa” kata Ilan sambil mengambil dan membakar rokok saya. ROKOK SAYA. Iyah sengaja diulang biar pada tau sebatang terakhir LM Abyad saya dipake ama Ilan. ( .__.)/||
“Akisah, seorang pria berjalan menuruni gunung. Dalam perjalanan ia melewati kebun bunga. Melihat keindahan bunga-bunga di sana, ia pun bertekad akan membawa satu bunga yang paling indah ke rumah. Ia memetik satu bunga indah yang ada di dekatnya. Tapi karena kebun yang begitu luas, sambil berjalan pulang, ia pun tetap mengedarkan pandangan mencari bunga yang lebih indah. Saat ia melihat yang lebih indah ia petik. Dan yang pertama tadi ia buang. Begitu seterusnya. Memetik, mencari lagi, membuang lagi, karena setiap bunga yang ia petik tidaklah benar-benar ia rasa sempurna. Sampai akhirnya ia tiba di ujung kebun. Hari pun sudah mulai gelap. Pria tersebut tak bisa melihat bunga yang indah lagi. Dan bunga yang ada di tangannya saat itu tidaklah seindah bunga yang pertama kali ia petik. Dia pun akhirnya pulang tanpa membawa bunga”.
“Semakin kita berusaha buat mencari pasangan yang sempurna, semakin sering kita berakhir dalam sebuah kekecewaan yang mendalam. Tak akan ada pasangan yang sempurna. Karena kita sendiri pun tidaklah sempurna. Saya tidak sempurna. Neng Anid tidak sempurna. Dan mungkin, hubungan kami pun tidaklah sempurna. Tapi ada hubungan yang selalu bertambah baik dari sebelumnya. Dan saya percaya, itu adalah hubungan saya dengan Neng Anid”.
“Saya pernah baca, sebuah kisah nyata, dari seorang ibu yang mengatakan bahwa pasangannya tidak sempurna. Ia sendiri pun menyadari bahwa dirinya tidak sempurna. Pertengkaran, drama, dan maslah adalah bagian dalam sebuah rumah tangga. Hanya saja, bagaimana mereka percaya satu sama lain sangatlah mendukung usaha mereka dalam memperbaiki dan terus berjalan bersama. Di situlah bedanya. Kepercayaan dan dukungan serta berusaha. Klise dan sangat sederhana, tapi kenyataany memang itulah yang membuat mereka tampak bahagia bersama. Komitmen untuk terus berjalan bersama, komunikasi masalah, kepercayaan kepada keputusan yang diambil, kompromi yang mengesampingkan ego, dan keintiman mengantarkan usia pernikahan mereka ke angka 45”.
“Ada juga yang sempat nanya ‘emang mas ilan nikah, gak takut cerai?’, yaa jelas takut laa, Mas Bro. Tapi itu sama aja kaya nanya ‘bapak/ibu naek pesawat, enggak takut jatuh?’ ke orang yang mau berangkat haji. Dari catatan Depag Provinsi Jawa Barat, kasus perceraian sangatlah tinggi. Dan yang saya tau, sebuah hubungan itu dibentuk sejak awal. Jadi kesalahan dalam hubungan itu bisa jadi disebabkan di awal masa hubungan. Dan hubungan kami, kami sadari tidak seperti kulit pipi Tamara Bleszynski yang mulus. Ada konflik, ada drama tapi kami berhasil melewatinya. Saya mempercayainya, dan she also believe in me. That’s it”.
“Kesimpulannya, kami sedang memulai babak baru dalam kehidupan kami. Ada banyak hal yang akan terjadi. Baik,buruk, susah, senang dan sebagainya. Tapi sekarang saya tak lagi sendiri, karena Neng Anid akan terus berada di samping saya. Till death do us apart. Amen”
Tak lama kemudian datanglah seorang mengenakan seragam panitia, memberitahukan bahwa sesi pemotretan pengantin bersama tamu undangan akan dimulai lagi. Ilan pun berdiri, di saat bersamaan, teman-teman juga mengahmpiri, akhirnya kami pun berpamitan kepada Neng Anid & Ilan, juga kepada kedua orang tua mereka untuk undur diri.
Kami sempatkan untuk mampir di warung nasi T.O. di kawasan Dadaha. Bukan untuk makan, hanya minum sambil ngobrol santai. Di sanalah saya banyak mengenang masa-masa bersama Ilan saat ia masih lajang dulu. Ilan, finally found his home. A home where the long journey begin. With a big single step called ‘akad-nikah’. Ciamis-Tasikmalaya will never be the same again after this day. Godspeed and Good Luck to H. Ilan & HJ. Mahda.
Oh iya, sebelum saya lupa, setiap akan ke Jakarta, dari Tasikmalaya Ilan atau Uday selalu memakai jasa Bus Cepat PO. Budiman. Tapi Rubie, Ayyubi dan Jamzuri sepertinya lebih senang memakai PO. Primajasa. Saya tahu informasi ini tidak terlalu penting, tapi entah kenapa saya ingin menulisnya.
** Disclaimer : Tidak berdasarkan dari kisah nyata. Hanya berharap semoga ini dapat turut serta menyumbang pencerahan pemikiran sebelum dan sesudah pernikahan. Sekian dan ciyum aku sekarang.
“Temen-temen pada kemana?” ia bertanya dengan wajah yang tetap berseri-seri.
“Tadi Asrori di sini, makan siomay. Cuma sekarang keknya di sana” saya menjawab dengan disertai gerakan kepala menunjukan sekitar sound system. Ilan pun mengedarkan pandangannya kesana. Lalu terlihat Rubi, Nadhir, Mimif, Asrori, dan Ayyubi tampak asyik bercengkrama. Mungkin mereka sedang membicarakan harga kayu jati, atau bisa jadi mereka sedang membicarakan rencana berlibur ke pedalaman Papua, yang pasti mereka tidak sedang membicarakan Jorge Lorenzo yang berhasil memenangi gelar MotoGP 2012.
Ilan mengambil kursi yang tak jauh di belakangnya. Lalu ia pun duduk di dekat saya. Kami duduk selayaknya dua pria yang memang bukan gay. Sembari mengedarkan pandangan ke sekitar kami.
“Jadi, gimana rasanya setelah resmi menjadi seorang suami?” saya membuka percakapan.
A Ilan tak menjawab hanya tersenyum tipis.
“A atuh A,,, certain. Sharing gitu kek. Bagi pengalaman” saya memasang pokerface. Ehh…sebentar pokerface itu kalo pake emoticon itu kek gini bukan sih “ :| “ ?. ahh sudahlah,, toh pertanyaan gimana cara bikin pokerface pake emoticon tak akan pernah masuk dalam daftar pertanyaan yang ditanyakan saat interview pilot Garuda Indonesia.
“Hmm,, saya udah nikah yaa sekarang mah?” Ilan berujar pelan tanpa disertai ekspresi pokerface. Jadi pokerface itu,,, duh,, hampura… jadi gak fokus gini. Pasti gara-gara nulis sambil dengerin Lady Gaga. Jadi pengen nulis pokerface terus. *matiin player
“Saya sudah cukup lama mengenal dia, To….” Ilan memulai ceritanya. “bahkan jauh sebelum pohon mangga di depan kantor Walikota Bandung ditanam” okeh,,, Ilan pun sepertinya kehilangan fokus. “Kami akhirnya memutuskan untuk menjalin sebuah komitmen. Dia ada dan menjadi saksi up and down kehidupan saya. Sampai tahun lalu, kami bertunangan dan mempersiapkan pernikahan”. Dari sorot matanya, saya tau, ia sedang mengenang.
“Setaun ini, benar-benar exciting banget, To..” Kata Ilan “Rasanya kalo kisah selama mempersiapkan itu dijadikan buku, mungkin bisa dijadikan 12 jilid yang tiap jilidnya berisi 450 Halaman!”. Lanjutnya diiringi tawa yang renyah.
“Ehh,, kang. Nanya dong” kata saya
“Nanya apaan, To?” Ilan menjawab sembari mengambil segelas es campur yang diberikan petugas catering. Mungkin dia haus.
“Saya mo nanya, bener gak sih,,, katanya kalo menjelang pernikahan itu orang bakal sering mendapat pertanyaan ‘serius? Gak bakal nyesel? Dan udah yakin’ gitu?”.
Ilan meletakan es campurnya, kemudian menjawab. “Kita jelas gak bisa, dan mungkin gak akan pernah bisa menutup mata dari apa yang terjadi di sekitar kita. Sudah banyak sekali di lingkungan tempat hidup terjadi kisah pernikahan yang gagal. Ada yang pacarannya lama kemudian harus kandas. Dan gak sedikit juga kisah yang ta’aruf-nya singkat, lama pernikahannya pun harus ended sesingkat ta’arufnya. Tapi kisah-kisah itu enggak mempengaruhi saya dan Neng Anid buat ngambil keputusan ini. Kami fight bersama, hingga hari ini, saya bisa mencium keningnya di hadapan tamu undangan tadi sambil berkata dalam hati ‘… we made it, Honey. We made it!’. Yaa,, saya bisa ngomong kek gini mungkin karena saya pengantinnya. Tapi terlepas dari itu, saya rasa, dan saya juga percaya, kami bisa melewatinya”.
“Yakin. Kalo buat saya, tidak ada yang namanya yakin penuh. Full. 100%. Enggak ada itu. Kalo kamu nanya ke orang soal yakin, terus dia bilang udah yakin banget, Full, 100%, ketahuilah, orang tersebut sebenarnya sedang berusaha berpikir positif dan biar terlihat positif aja. Karena ini pernikahan. Hal yang besar. Gak bisa Cuma mengandalkan keyakinan agar ini bisa terjadi. Saya dan Neng Anid memberikan 100% dari komunikasi, kompromi, komitmen dan kepercayaan untuk melangkah ke sini. Dan ketika sampai di hari ini pun, sebenarnya petualangan kami baru aja dimulai. Makanya banyak karangan bunga bertuliskan ‘SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU’ dikirim ke sini, karena mereka tau, dari sinilah sebenarnya episode baru dimulai”.
“Setelah tunangan, saya jadi semakin mengerti, bahwa hal yang paling dasar dalam membina sebuah hubungan adalah Komunikasi, Keintiman, Kepercayaan, Komitmen dan Kompromi. Cinta tidak saya jadikan sebagai fondasi hubungan. Karena sebuah hubungan, tidak akan pernah bisa berjalan hanya dengan sebuah ucapan ‘aku sayang padamu’ atau cuma dengan dinner di Suis Butcher-Steak House, Bandung. Ada banyak drama, conflict interest yang terjadi dalam sebuah hubungan. Hal yang bisa diprediksi sebenarnya, karena ada dua orang dengan latar dan pola pikir yang berbeda. Lebih jauhnya , ada dua keluarga besar yang harus disatukan jika kita bicara tentang pernikahan. Dapat dipastikan, hanya bermodal ‘aku cinta kamu, kamu cinta aku, kita nikah yuk’ jelas tidak akan pernah bisa berjalan dengan baik. Kecuali kamu adalah Ibnu Jamil dan lagi maen FTV”.
“Syaitan sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tak jarang membisikan godaan dengan menyusupkan keraguan dan rasa was-was ke dalam hati. Kadang mereka membisikan ‘udah jangan buru-buru. Siapa tau nanti ketemu yang jauh lebih baik’. Dan Alhamdulillah, Allah memberi saya kekuatan untuk meyakini bahwa terus-menerus mencari yang lebih baik hanyalah akan membuat kita kehilangan waktu dan tenaga tanpa pernah bisa menemukannya. Kamu pasti udah pernah baca atau minimal denger tentang ‘analogi kebun bunga’ kan?”
“iya. Terakhir saya baca di status FB Jamzuri, dia yang paling ketinggalan buat nge-repost tuhh.. “ saya berusaha mengingat.
“Nah. Iya itu,,, Tapi gini deh,, biar kesannya saya keren, dan obrolan kita makin panjang, saya akan ceritakan lagi yaa” kata Ilan sambil mengambil dan membakar rokok saya. ROKOK SAYA. Iyah sengaja diulang biar pada tau sebatang terakhir LM Abyad saya dipake ama Ilan. ( .__.)/||
“Akisah, seorang pria berjalan menuruni gunung. Dalam perjalanan ia melewati kebun bunga. Melihat keindahan bunga-bunga di sana, ia pun bertekad akan membawa satu bunga yang paling indah ke rumah. Ia memetik satu bunga indah yang ada di dekatnya. Tapi karena kebun yang begitu luas, sambil berjalan pulang, ia pun tetap mengedarkan pandangan mencari bunga yang lebih indah. Saat ia melihat yang lebih indah ia petik. Dan yang pertama tadi ia buang. Begitu seterusnya. Memetik, mencari lagi, membuang lagi, karena setiap bunga yang ia petik tidaklah benar-benar ia rasa sempurna. Sampai akhirnya ia tiba di ujung kebun. Hari pun sudah mulai gelap. Pria tersebut tak bisa melihat bunga yang indah lagi. Dan bunga yang ada di tangannya saat itu tidaklah seindah bunga yang pertama kali ia petik. Dia pun akhirnya pulang tanpa membawa bunga”.
“Semakin kita berusaha buat mencari pasangan yang sempurna, semakin sering kita berakhir dalam sebuah kekecewaan yang mendalam. Tak akan ada pasangan yang sempurna. Karena kita sendiri pun tidaklah sempurna. Saya tidak sempurna. Neng Anid tidak sempurna. Dan mungkin, hubungan kami pun tidaklah sempurna. Tapi ada hubungan yang selalu bertambah baik dari sebelumnya. Dan saya percaya, itu adalah hubungan saya dengan Neng Anid”.
“Saya pernah baca, sebuah kisah nyata, dari seorang ibu yang mengatakan bahwa pasangannya tidak sempurna. Ia sendiri pun menyadari bahwa dirinya tidak sempurna. Pertengkaran, drama, dan maslah adalah bagian dalam sebuah rumah tangga. Hanya saja, bagaimana mereka percaya satu sama lain sangatlah mendukung usaha mereka dalam memperbaiki dan terus berjalan bersama. Di situlah bedanya. Kepercayaan dan dukungan serta berusaha. Klise dan sangat sederhana, tapi kenyataany memang itulah yang membuat mereka tampak bahagia bersama. Komitmen untuk terus berjalan bersama, komunikasi masalah, kepercayaan kepada keputusan yang diambil, kompromi yang mengesampingkan ego, dan keintiman mengantarkan usia pernikahan mereka ke angka 45”.
“Ada juga yang sempat nanya ‘emang mas ilan nikah, gak takut cerai?’, yaa jelas takut laa, Mas Bro. Tapi itu sama aja kaya nanya ‘bapak/ibu naek pesawat, enggak takut jatuh?’ ke orang yang mau berangkat haji. Dari catatan Depag Provinsi Jawa Barat, kasus perceraian sangatlah tinggi. Dan yang saya tau, sebuah hubungan itu dibentuk sejak awal. Jadi kesalahan dalam hubungan itu bisa jadi disebabkan di awal masa hubungan. Dan hubungan kami, kami sadari tidak seperti kulit pipi Tamara Bleszynski yang mulus. Ada konflik, ada drama tapi kami berhasil melewatinya. Saya mempercayainya, dan she also believe in me. That’s it”.
“Kesimpulannya, kami sedang memulai babak baru dalam kehidupan kami. Ada banyak hal yang akan terjadi. Baik,buruk, susah, senang dan sebagainya. Tapi sekarang saya tak lagi sendiri, karena Neng Anid akan terus berada di samping saya. Till death do us apart. Amen”
Tak lama kemudian datanglah seorang mengenakan seragam panitia, memberitahukan bahwa sesi pemotretan pengantin bersama tamu undangan akan dimulai lagi. Ilan pun berdiri, di saat bersamaan, teman-teman juga mengahmpiri, akhirnya kami pun berpamitan kepada Neng Anid & Ilan, juga kepada kedua orang tua mereka untuk undur diri.
Kami sempatkan untuk mampir di warung nasi T.O. di kawasan Dadaha. Bukan untuk makan, hanya minum sambil ngobrol santai. Di sanalah saya banyak mengenang masa-masa bersama Ilan saat ia masih lajang dulu. Ilan, finally found his home. A home where the long journey begin. With a big single step called ‘akad-nikah’. Ciamis-Tasikmalaya will never be the same again after this day. Godspeed and Good Luck to H. Ilan & HJ. Mahda.
Oh iya, sebelum saya lupa, setiap akan ke Jakarta, dari Tasikmalaya Ilan atau Uday selalu memakai jasa Bus Cepat PO. Budiman. Tapi Rubie, Ayyubi dan Jamzuri sepertinya lebih senang memakai PO. Primajasa. Saya tahu informasi ini tidak terlalu penting, tapi entah kenapa saya ingin menulisnya.
** Disclaimer : Tidak berdasarkan dari kisah nyata. Hanya berharap semoga ini dapat turut serta menyumbang pencerahan pemikiran sebelum dan sesudah pernikahan. Sekian dan ciyum aku sekarang.


