Friday, April 25, 2008
posted by iroquist de aNt0 at 11:48 PM | Permalink
Catatan Ringan Ian Sitomurang : Membangkitkan Semangat dari Kudus
Pertengahan Mei nanti, kita akan dilibatkan secara emosional oleh para pemain bulutangkis Indonesia. Maklum, gengsi olahraga bernapaskan nasionalisme tengah dipertaruhkan.
Dua piala supremasi bulutangkis beregu dunia, Piala Thomas dan Piala Uber diperebutkan di Jakarta.Sebagai tuan rumah, wajar kita berharap setidaknya Piala Thomas akan kembali menjadi milik bangsa ini.
Bicara tentang gengsi olahraga, sejarah mencatat bulutangkis adalah cabang yang paling banyak memberi sumbangan. Gelar juara di berbagai turnamen internasional, Piala Thomas (beregu putra), Piala Uber (beregu putri), Piala Sudirman (beregu campuran) jadi bukti. Begitu juga persembahan fenomenal tradisi meraih medali emas Olimpiade sejak 1992 di Barcelona.
Wajar dan sangat pantas bila pemimpin negeri ini memberi perhatian khusus kepada bulutangkis. Memberi perhatian dengan restu dan dorongan semangat, itu baik. Namun saat ini, perbulutangkisan Indonesia lebih membutuhkan dukungan dana untuk menjalankan seluruh rencana dan strategi.
Bukan rahasia lagi bila jalan yang dihadapi pengurus PBSI sering menemui sandungan. Mereka tertatih dan terantuk sehingga harus memilih penghematan pengiriman pemain berlaga di arena internasional. Persoalan intinya kembali lagi-lagi masalah finansial yang cekak.
Usaha keras untuk hidup mandiri telah dilakoni. Kontrak kolektif dengan Yonex hingga pendapatan dari sponsor terus diusahakan, tapi karena memang dasar kebutuhan sangat besar, tetap saja tidak memadai hingga tingkat tertentu.
Konsekuensi dari dana minim adalah kemerosotan prestasi. Indikasi korelasi ini cukup kuat sehingga belitan negatif ini mesti segera diputus. Sudah tiba waktunya bagi pemerintah memberi perhatian khusus kepada dunia bulutangkis.
Apakah tepat membandingkan antara bulutangkis dengan sepakbola? Tentu tidak ada salahnya. Sepakbola adalah cabang yang diminati penggemar dalam jumlah besar, namun belum memberikan prestasi menggembirakan. Sedangkan bulutangkis, penontonnya tidak terlalu banyak, tapi prestasinya adalah tahunan gengsi negeri ini.
Nah, sudah menjadi rahasia umum bahwa donasi pemerintah kepada sepakbola melalui pintu APBD sangat berlebihan. Sebaliknya bulutangkis khususnya dan cabang lain tidak merasakan nikmat seperti itu.
Sejauh ini, kita tak menemukan sikap fair itu. Peman-faatan dana APBD sering dikucurkan oleh keputusan sarat politik, belum melihat urgensi berdasarkan kaca mata olahraga. Karena itu, waktunya berpikir jernih untuk menerapkan prinsip first things first.
***
Melihat prestasi belakangan ini yang kurang cemerlang, insan bulutangkis Indonesia patut merasa prihatin. Banyak upaya ditempuh PBSI dengan konsentrasi meningkatkan kemampuan pemain di pusat pembinaan Cipayung.
Stasiun televisi Trans secara rutin memberikan informasi sekaligus menggugah semangat penonton. Upaya ini tentu merupakan bagian untuk memenuhi harapan agar Taufik Hidayat cs. merebut kembali Piala Thomas.
Djarum Kudus, klub yang banyak menghasilkan pemain terbaik Indonesia tidak mau ketinggalan. Mereka tetap terlibat secara langsung memberikan sokongan kepada PBSI berupa sponsorship maupun pemikiran. Yang dipikirkan tidak hanya masa kini, tapi juga membangun harapan masa depan.
Masih dalam konteks menyambut Piala Thomas dan Uber, Bhakti Olahraga Djarum menggelar acara Seminar Bulutangkis dengan penekanan tema soal mental. Acara berlangsung di Kudus 26 April.
Lilik Sudarwati, mantan pemain dan penulis buku psikologi Mental Sang Juara menjadi pembicara utama. Lilik didampingi Ivanna Lie, Liem Swie King, Christian Hadinata, dan saya, dengan Miing sebagai pembawa acara.
Acara ini tentu sangat menarik. Kenapa? Karena pesertanya sekitar 200 pemain adalah yang masih berstatus junior. ”Tujuannya memang untuk menumbuhkan mental yang kuat bagi atlet muda,” kata Rudiyanto Gunawan, dari pihak Djarum.
Mempersiapkan para bibit muda untuk menggantikan pemain senior adalah tujuan yang ingin dicapai. Selama ini kita sering terjebak hanya mengurusi pemain yang sudah dewasa sehingga pembinaan atlet muda terkesampingkan. Daripada menyesal kemudian, maka harus dimulai sebelum terlambat.
Menurut Christian, dalam pertandingan beregu memang harus dibangun kebersamaan secara tim. Hanya, semangat perseorangan tidak boleh dikesampingkan, sebab ambisi pribadi adalah bagian dari tujuan secara bersama.
Swie King akan menyemangati atlet muda peserta bincang-bincang bulutangkis itu dengan berbagi pengalaman. Salah satunya adalah sikap pantang menyerah sebelum pertandingan usai.
”Pemain senior maupun junior tidak boleh patah semangat. Jangan pernah menerima kalah sebelum betul-betul selesai, berapa pun perbedaan poin, kita harus tetap membangun sikap optimisme,” begitu King membuka sedikit rahasia suksesnya selama ini.
Pembahasan yang menarik. Sambil berharap tim Piala Thomas dan Uber berhasil, kita simak juga gawean Djarum membangkitkan semangat atlet muda dari Kudus!
Diambil dari http://www.bolanews.com
Dua piala supremasi bulutangkis beregu dunia, Piala Thomas dan Piala Uber diperebutkan di Jakarta.Sebagai tuan rumah, wajar kita berharap setidaknya Piala Thomas akan kembali menjadi milik bangsa ini.
Bicara tentang gengsi olahraga, sejarah mencatat bulutangkis adalah cabang yang paling banyak memberi sumbangan. Gelar juara di berbagai turnamen internasional, Piala Thomas (beregu putra), Piala Uber (beregu putri), Piala Sudirman (beregu campuran) jadi bukti. Begitu juga persembahan fenomenal tradisi meraih medali emas Olimpiade sejak 1992 di Barcelona.
Wajar dan sangat pantas bila pemimpin negeri ini memberi perhatian khusus kepada bulutangkis. Memberi perhatian dengan restu dan dorongan semangat, itu baik. Namun saat ini, perbulutangkisan Indonesia lebih membutuhkan dukungan dana untuk menjalankan seluruh rencana dan strategi.
Bukan rahasia lagi bila jalan yang dihadapi pengurus PBSI sering menemui sandungan. Mereka tertatih dan terantuk sehingga harus memilih penghematan pengiriman pemain berlaga di arena internasional. Persoalan intinya kembali lagi-lagi masalah finansial yang cekak.
Usaha keras untuk hidup mandiri telah dilakoni. Kontrak kolektif dengan Yonex hingga pendapatan dari sponsor terus diusahakan, tapi karena memang dasar kebutuhan sangat besar, tetap saja tidak memadai hingga tingkat tertentu.
Konsekuensi dari dana minim adalah kemerosotan prestasi. Indikasi korelasi ini cukup kuat sehingga belitan negatif ini mesti segera diputus. Sudah tiba waktunya bagi pemerintah memberi perhatian khusus kepada dunia bulutangkis.
Apakah tepat membandingkan antara bulutangkis dengan sepakbola? Tentu tidak ada salahnya. Sepakbola adalah cabang yang diminati penggemar dalam jumlah besar, namun belum memberikan prestasi menggembirakan. Sedangkan bulutangkis, penontonnya tidak terlalu banyak, tapi prestasinya adalah tahunan gengsi negeri ini.
Nah, sudah menjadi rahasia umum bahwa donasi pemerintah kepada sepakbola melalui pintu APBD sangat berlebihan. Sebaliknya bulutangkis khususnya dan cabang lain tidak merasakan nikmat seperti itu.
Sejauh ini, kita tak menemukan sikap fair itu. Peman-faatan dana APBD sering dikucurkan oleh keputusan sarat politik, belum melihat urgensi berdasarkan kaca mata olahraga. Karena itu, waktunya berpikir jernih untuk menerapkan prinsip first things first.
***
Melihat prestasi belakangan ini yang kurang cemerlang, insan bulutangkis Indonesia patut merasa prihatin. Banyak upaya ditempuh PBSI dengan konsentrasi meningkatkan kemampuan pemain di pusat pembinaan Cipayung.
Stasiun televisi Trans secara rutin memberikan informasi sekaligus menggugah semangat penonton. Upaya ini tentu merupakan bagian untuk memenuhi harapan agar Taufik Hidayat cs. merebut kembali Piala Thomas.
Djarum Kudus, klub yang banyak menghasilkan pemain terbaik Indonesia tidak mau ketinggalan. Mereka tetap terlibat secara langsung memberikan sokongan kepada PBSI berupa sponsorship maupun pemikiran. Yang dipikirkan tidak hanya masa kini, tapi juga membangun harapan masa depan.
Masih dalam konteks menyambut Piala Thomas dan Uber, Bhakti Olahraga Djarum menggelar acara Seminar Bulutangkis dengan penekanan tema soal mental. Acara berlangsung di Kudus 26 April.
Lilik Sudarwati, mantan pemain dan penulis buku psikologi Mental Sang Juara menjadi pembicara utama. Lilik didampingi Ivanna Lie, Liem Swie King, Christian Hadinata, dan saya, dengan Miing sebagai pembawa acara.
Acara ini tentu sangat menarik. Kenapa? Karena pesertanya sekitar 200 pemain adalah yang masih berstatus junior. ”Tujuannya memang untuk menumbuhkan mental yang kuat bagi atlet muda,” kata Rudiyanto Gunawan, dari pihak Djarum.
Mempersiapkan para bibit muda untuk menggantikan pemain senior adalah tujuan yang ingin dicapai. Selama ini kita sering terjebak hanya mengurusi pemain yang sudah dewasa sehingga pembinaan atlet muda terkesampingkan. Daripada menyesal kemudian, maka harus dimulai sebelum terlambat.
Menurut Christian, dalam pertandingan beregu memang harus dibangun kebersamaan secara tim. Hanya, semangat perseorangan tidak boleh dikesampingkan, sebab ambisi pribadi adalah bagian dari tujuan secara bersama.
Swie King akan menyemangati atlet muda peserta bincang-bincang bulutangkis itu dengan berbagi pengalaman. Salah satunya adalah sikap pantang menyerah sebelum pertandingan usai.
”Pemain senior maupun junior tidak boleh patah semangat. Jangan pernah menerima kalah sebelum betul-betul selesai, berapa pun perbedaan poin, kita harus tetap membangun sikap optimisme,” begitu King membuka sedikit rahasia suksesnya selama ini.
Pembahasan yang menarik. Sambil berharap tim Piala Thomas dan Uber berhasil, kita simak juga gawean Djarum membangkitkan semangat atlet muda dari Kudus!
Diambil dari http://www.bolanews.com

