Monday, June 2, 2008
posted by iroquist de aNt0 at 2:16 AM | Permalink
Teruslah Berharap pada Bulutangkis


Banyak yang kecewa karena kegagalan tim Piala Thomas Indonesia. Bukan semata karena tak mampu menjadi juara. Suara miring pun dilontarkan pada penampilan pemain yang tidak ngotot saat berlaga.

Kalah 0-3 dari Korsel di semifinal sungguh meninggalkan rasa sakit hati. Hasil akhir yang sama sekali tidak masuk dalam perhitungan menggandakan rasa kecewa. Harapan menghadapi Cina dan menang di final tak pernah menjadi kenyataan.

Betulkan pemain tak tampil maksimal? Atau memang kemampuan pemain kita sudah mentok? Bisa saja persiapan selama di pelatnas tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga kemampuan fisik tak menunjang penguasaan teknik.

Di bagian putri, melaju hingga final dari target semifinal sudah merupakan pencapaian bagus. Sayang, Maria Kristin dan kawan-kawan belum seperkasa era Susy Susanti, yang dua kali merebut Piala Uber.

Hasil akhir 0-3 di final melawan Cina memang telak. Namun, proses kekalahan tak melahirkan antipati. Para atlet menampilkan permainan dengan sangat berani dan ngotot, sehingga walau kalah, masyarakat tetap memberi apresiasi atas usaha mereka.

Apa boleh buat? Kita gagal mempersembahkan Piala Thomas dan Uber sebagai kado peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Berlaga di hadapan publik sendiri, Istora Senayan, kita tetap juga kalah. Karena itu, berharap menjadi juara dalam waktu dekat saat bertanding di negeri orang sulit rasanya.

Peluang terbesar di depan mata telah sirna. Segala upaya yang dijalankan selama persiapan belum memberi hasil maksimal. Kita perlu bertanya dan mawas diri untuk menelisik kembali perjalanan persiapan. Mungkin ada sesuatu yang terlewatkan sehingga berakibat buruk.

***


Dalam waktu dekat, Sutiyoso sebagai pemimpin tertinggi bulutangkis Indonesia segera lengser. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu tak lagi berniat dan bersedia memperpanjang pengabdiannya di bulutangkis.

Peran seorang ketua tentulah sangat sentral. Kita butuh pemimpin yang tak hanya cinta terhadap bulutangkis, tapi memiliki leadership. Olahraga sekarang bukan semata berjalan, tapi harus mampu melangkah cepat mengikuti gerak organisasi dan persaingan dunia.

Tipe pemimpin seperti apa yang dibutuhkan organisasi seperti PBSI? Sejauh ini belum ada kriteria baku. Ada yang menyebut bahwa yang pantas menjadi komandan adalah dari kalangan militer yang bersikap tegas dan memiliki jejaring luas.

Benarkah demikian? Sudah banyak pemilik bintang yang mampu mengomandoi PBSI, yaitu Try Soetrisno, Surjadi, Subagyo H.S., dan kemudian Sutiyoso. Kinerja dan hasil prestasi masing-masing pemimpin dari kalangan militer itu telah dicatat. Ada yang menonjol, namun ada juga yang dalam kategori sedang.

Menarik menyimak pendapat seorang pembaca yang menyebut bahwa pemimpin yang dibutuhkan di PBSI adalah yang memiliki jiwa entrepreneur. Bukan pejabat atau mantan petinggi negara yang sebenarnya sudah habis masa jayanya.

Beberapa contoh dipaparkan. Ada tokoh sepakbola dunia yang memimpin FIFA dengan menumpahkan seluruh waktu dan aktivitasnya khusus mengurus sepakbola. Joseph Blatter bahkan hidup dari organisasi itu dan mengembangkannya secara luar biasa ditinjau dari sudut kemampuan ekonomis.

Contoh lainnya adalah David Stern, komisioner basket pro Amerika, NBA. Penggabungan antara hiburan yang dibalut dengan prestasi membuat basket menjadi komoditas bisnis yang menggiurkan. Dengan kata lain, olahraga harus dikemas dan ditangani sebagaimana bidang usaha komersial.

Karena itu, seorang ketua harus juga mampu berperan ibarat CEO (chief executive officer) dalam perusahaan besar, yang mengarahkan gerak olahraga sebagai kegiatan yang mampu mendatangkan keuntungan.

Dengan langkah seperti itu, roda organisasi olahraga dapat berjalan normal. Segala kebutuhan biaya operasional tak lagi mengandalkan bantuan uang dari pemerintah. Hubungan antara organisasi dengan sponsor dibangun berdasarkan win-win solution.

Mimpikah berharap seperti ini? Di bumi kita mungkin demikian, tapi banyak belahan dunia lain sudah bergerak maju. Dalam wilayah kita, sepakbola, yang sudah sangat populer, malah masih terus mengharapkan kucuran dana masyarakat lewat APBD.

***


Semoga ada tokoh baru pengganti Sutiyoso yang memiliki kapasitas lebih. Sambil mencari sang komandan, pembinaan dan arah tujuan bulutangkis Indonesia tidak boleh salah arah.

Bagaimanapun, bulutangkis harus tetap menjadi prioritas super bagi negeri ini. Sejarah panjang dan pencapaian prestasi masih di posisi terdepan jika melangkah ke wilayah internasional. Karena itu, pemerintah patut menopang denyut kehidupannya.

Piala Thomas dan Uber telah lepas di depan publik sendiri. Belum ada jaminan kapan peluang menjadi kampiun akan kembali datang. Namun, kita harus berjuang gigih dan tetap berharap pada prestasi bulutangkis.

Agustus mendatang, panggung Olimpiade digelar di Beijing. Jika kita berpikir negatif, akan keluar kata-kata: “Di depan publik Istora saja kita kalah, mana mungkin menang di Beijing?”

Pembaca, bukankah olahraga menyimpan sejuta misteri? Bukankah bulutangkis Indonesia secara rutin menyumbangkan medali emas Olimpiade sejak 1992?

Dengan keyakinan akan kemampuan, kita harus optimistis bahwa tradisi emas akan berlanjut. Emas Olimpiade, segeralah datang!