Sunday, August 5, 2012
posted by iroquist de aNt0 at 5:21 AM | Permalink
Tak Perlu Takut, Kini Ada Demokrasi
Masa Depan Mesir Setelah Terpilihnya Muhammad Mursi

Saat capres dari Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi, secara resmi diumumkan sebagai pemenang pemilu, ada kepanikan yang mendalam di benak rakyat Mesir, akankah mereka kembali terjebak dalam rezim diktator, rezim yang mengkungkung kebebasan, atau bahkan lebih buruk dari. Kalau semua kekhawatiran ini terjadi, maka perjuangan revolusi selama ini akan sia-sia.
Afghanistan, Aljazair, dan Sudan kerap dijadikan rujukan atas apa yang telah terjadi setelah Islam berkuasa di negara-negara tersebut. Dan juga perkembangan Pakistan pasca dipimpin oleh aliansi Islam-Militer. Isu ini terus menerus didengungkan oleh media cetak maupun elektronik kontra-Ikhwanul Muslimin. Di sisi lainnya, media pro-Ikhwanul Muslimin terus berusaha menjamin dan meyakinkan bahwa masa depan Mesir lebih menjanjikan bersama Muhammad Mursi.
Di balik pro dan kontra ini, saya sendiri tidak pernah memilih Ikhwanul Muslimin, baik itu dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden lalu. Saya pun tidak percaya bahwa kemenangan Ikhwanul Muslimin ini adalah sebuah langkah untuk membangun Mesir yang lebih modern seperti yang kita inginkan ; dimana semua rakyat Mesir dapat merasakan kesetaraan, tidak ada lagi yang menderita karena adanya diskriminasi jender, etnis, dan agama ; sebuah negara dengan demokrasi, kebebasan, serta keadilan sosial di dalamnya.
Meskipun demikian, Saya tidak percaya bahwa saat ini Mesir sedang menanti datangnya bencana dari Yang Maha Kuasa karena Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu presiden. Sebaliknya, jutaan rakyat mesir memilih Mursi hanyalah untuk menghindari Ahmad Shafiq yang merupakan representasi rezim Mubarak. Seorang teman saya mengungkapkan “ aku tidak memilih Mursi, aku hanya menolak Shafiq”.
Ini bukanlah akhir dari cerita perjuangan,ini hanyalah langkah awal bagi demokrasi Mesir yang sesungguhnya. Langkah awal yang penting bagi masa depan demokrasi di mana kroni-kroni Mubarak sudah keluar dari permainan ini. Rakyat Mesir telah mengalahkan setiap pendukung rezim Mubarak,dalam pemilu legislatif dan juga dalam pemilu presiden.
Mereka yang telah berjuang untuk kebebasan tidak mungkin akan membiarkan itu dirampas kembali;Meraka yang telah berjuang untuk kesetaraan tidak bisa kehilangan itu, Mereka yang telah menuntut keadilan sosial tidak akan berhenti sampai hal itu tercapai, dan mereka yang telah menjatuhkan rezim yang merampas hak-hak mereka tentu dapat mengalahkan siapapun yang mencoba untuk menghalangi jalan mereka membangun era baru. Terlebih karena sebagian dari mereka yang memilih presiden tidak melakukannya hanya untuk kepuasan dirinya, tetapi karena mereka ingin menghindari apa yang mereka pandang sebagai ancaman yang lebih besar untuk bangsa mereka.
Tentang presiden terpilih Muhammad Mursi, saya merasa tidak perlu khawatir dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki olehnya, karena seberapa besarpun kekuatan itu, rakyat pasti akan mengalahkannya. Perlu diingat, hanya dua setengah tahun yang lalu, Mesir dipimpin oleh seorang presiden yang menjadi mastermind di setiap represidan. Dan juga memiliki pengaruh di semua bidang dan institusi; kepolisian, otoritas keamanan, pasukan khusus, badan intelejen, satuan tentara dan juga memimpin partai dengan anggota berjumlah tiga juta orang yang mendominasi parlemen, didukung oleh pelaku bisnis serta negara-negara berpengaruh di dunia. Rakyat Mesir hanya membutuhkan waktu delapan belas hari untuk membuatnya mundur dari jabatan presiden dan membongkar semuanya hanya dalam waktu satu tahun setengah.
Terpilihnya kandidat capres yang diusung oleh Ikhwanul Muslimin dapat dikatakan sebagai cara rakyat Mesir membersihkan pemerintahan dari rezim Mubarak yang masih tersisa. Peta kekuatan politik yang berubah secara fundamental pada saat ini menjadikan setiap rakyat Mesir dapat mengklaim sebuah revolusi yang berbuah manis. Dan kalaulah ini adalah sebuah alur demokrasi, tak ada pilihan lain bagi kita selain harus menerima hasil dari pemilu lalu. Namun, tentu saja kita masih dan akan terus melihat kedepannya untuk menemukan jawaban apakah kita sudah memilih dengan tepat. Jika Ikhwanul Muslimin dapat merealisasikan apa yang mereka janjikan, tidak akan ada lagi keraguan bahwa rakyat Mesir akan kembali memilih mereka. Jika tidak, maka konsekuensi dari sebuah sistem demokrasi yang akan menjadi sanksi adalah tak akan ada lagi dukungan bagi mereka.
Menariknya hal ini adalah fakta bahwa dukungan terhadap Ikhwanul Muslimin dalam pemilihan presiden putaran pertama mengalami penurunan dua puluh persen dari yang apa yang didapat dalam pemilu parlemen lima bulan sebelumnya. Hal itu merupakan bukti nyata dari kekecewaan sebagian pemilih terhadap anggota parlemen dari Ikhwanul Muslimin. Maka dapat dipastikan, siapapun yang berpikir Ikhwanul Muslimin gagal memenuhi tuntutan revolusi akan berasumsi mereka akan memerintah dalam waktu yang relatif singkat. Terlepas dari gerak mereka yang terorganisir dengan baik, usaha mereka dalam mempengaruhi dan mencoba membentuk sebuah opini publik, dan juga besarnya uang yang dikeluarkan pada prosesnya.
Saya tidak berharap rekan-rekan aktivis menaruh kepercayaan pada kepemimpinan Ikhwanul Muslimin. Mengingat saya menyadari, bahwa dalam beberapa bulan terakhir, mereka kerap mengkhianati kita. Namun saya berharap kita mempunyai kepercayaan pada kemampuan kita untuk menghentikan sebuah rezim dan membuat perubahan bagi Mesir. Faktanya, kita dapat menjadi sebuah kekuatan. Sebuah kekuatan untuk membangun era baru Mesir dengan kesetaraan, tanpa militer, dan tanpa tirani kekuasaan .
Perjalanan kita untuk meraih kebebasan sudah dimulai ; tujuannya adalah negara yang berdasar pada kebebasan, demokrasi, keadilan sosial, dan kesetaraan. Dan tidak seorangpun bisa menghentikan langkah kita. Milikilah sebuah keyakinan dalam diri dan keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki untuk mewujudkan mimpi.
*Sebuah pembelajaran politik dari refleksi Ziad al-Alimi di salah satu surat kabar Mesir, al-Masry al-Youm dan dipublikasikan kembali oleh situs Qantara. Seorang aktifis HAM yang sekarang menjabat wakil ketua parlemen dari Partai Demokrat Sosial Mesir.
**seperti yang dimuat dalam situs DPC PPP Majalengka, 31 Juli 2012

Saat capres dari Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi, secara resmi diumumkan sebagai pemenang pemilu, ada kepanikan yang mendalam di benak rakyat Mesir, akankah mereka kembali terjebak dalam rezim diktator, rezim yang mengkungkung kebebasan, atau bahkan lebih buruk dari. Kalau semua kekhawatiran ini terjadi, maka perjuangan revolusi selama ini akan sia-sia.
Afghanistan, Aljazair, dan Sudan kerap dijadikan rujukan atas apa yang telah terjadi setelah Islam berkuasa di negara-negara tersebut. Dan juga perkembangan Pakistan pasca dipimpin oleh aliansi Islam-Militer. Isu ini terus menerus didengungkan oleh media cetak maupun elektronik kontra-Ikhwanul Muslimin. Di sisi lainnya, media pro-Ikhwanul Muslimin terus berusaha menjamin dan meyakinkan bahwa masa depan Mesir lebih menjanjikan bersama Muhammad Mursi.
Di balik pro dan kontra ini, saya sendiri tidak pernah memilih Ikhwanul Muslimin, baik itu dalam pemilu legislatif maupun pemilu presiden lalu. Saya pun tidak percaya bahwa kemenangan Ikhwanul Muslimin ini adalah sebuah langkah untuk membangun Mesir yang lebih modern seperti yang kita inginkan ; dimana semua rakyat Mesir dapat merasakan kesetaraan, tidak ada lagi yang menderita karena adanya diskriminasi jender, etnis, dan agama ; sebuah negara dengan demokrasi, kebebasan, serta keadilan sosial di dalamnya.
Meskipun demikian, Saya tidak percaya bahwa saat ini Mesir sedang menanti datangnya bencana dari Yang Maha Kuasa karena Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu presiden. Sebaliknya, jutaan rakyat mesir memilih Mursi hanyalah untuk menghindari Ahmad Shafiq yang merupakan representasi rezim Mubarak. Seorang teman saya mengungkapkan “ aku tidak memilih Mursi, aku hanya menolak Shafiq”.
Ini bukanlah akhir dari cerita perjuangan,ini hanyalah langkah awal bagi demokrasi Mesir yang sesungguhnya. Langkah awal yang penting bagi masa depan demokrasi di mana kroni-kroni Mubarak sudah keluar dari permainan ini. Rakyat Mesir telah mengalahkan setiap pendukung rezim Mubarak,dalam pemilu legislatif dan juga dalam pemilu presiden.
Mereka yang telah berjuang untuk kebebasan tidak mungkin akan membiarkan itu dirampas kembali;Meraka yang telah berjuang untuk kesetaraan tidak bisa kehilangan itu, Mereka yang telah menuntut keadilan sosial tidak akan berhenti sampai hal itu tercapai, dan mereka yang telah menjatuhkan rezim yang merampas hak-hak mereka tentu dapat mengalahkan siapapun yang mencoba untuk menghalangi jalan mereka membangun era baru. Terlebih karena sebagian dari mereka yang memilih presiden tidak melakukannya hanya untuk kepuasan dirinya, tetapi karena mereka ingin menghindari apa yang mereka pandang sebagai ancaman yang lebih besar untuk bangsa mereka.
Tentang presiden terpilih Muhammad Mursi, saya merasa tidak perlu khawatir dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki olehnya, karena seberapa besarpun kekuatan itu, rakyat pasti akan mengalahkannya. Perlu diingat, hanya dua setengah tahun yang lalu, Mesir dipimpin oleh seorang presiden yang menjadi mastermind di setiap represidan. Dan juga memiliki pengaruh di semua bidang dan institusi; kepolisian, otoritas keamanan, pasukan khusus, badan intelejen, satuan tentara dan juga memimpin partai dengan anggota berjumlah tiga juta orang yang mendominasi parlemen, didukung oleh pelaku bisnis serta negara-negara berpengaruh di dunia. Rakyat Mesir hanya membutuhkan waktu delapan belas hari untuk membuatnya mundur dari jabatan presiden dan membongkar semuanya hanya dalam waktu satu tahun setengah.
Terpilihnya kandidat capres yang diusung oleh Ikhwanul Muslimin dapat dikatakan sebagai cara rakyat Mesir membersihkan pemerintahan dari rezim Mubarak yang masih tersisa. Peta kekuatan politik yang berubah secara fundamental pada saat ini menjadikan setiap rakyat Mesir dapat mengklaim sebuah revolusi yang berbuah manis. Dan kalaulah ini adalah sebuah alur demokrasi, tak ada pilihan lain bagi kita selain harus menerima hasil dari pemilu lalu. Namun, tentu saja kita masih dan akan terus melihat kedepannya untuk menemukan jawaban apakah kita sudah memilih dengan tepat. Jika Ikhwanul Muslimin dapat merealisasikan apa yang mereka janjikan, tidak akan ada lagi keraguan bahwa rakyat Mesir akan kembali memilih mereka. Jika tidak, maka konsekuensi dari sebuah sistem demokrasi yang akan menjadi sanksi adalah tak akan ada lagi dukungan bagi mereka.
Menariknya hal ini adalah fakta bahwa dukungan terhadap Ikhwanul Muslimin dalam pemilihan presiden putaran pertama mengalami penurunan dua puluh persen dari yang apa yang didapat dalam pemilu parlemen lima bulan sebelumnya. Hal itu merupakan bukti nyata dari kekecewaan sebagian pemilih terhadap anggota parlemen dari Ikhwanul Muslimin. Maka dapat dipastikan, siapapun yang berpikir Ikhwanul Muslimin gagal memenuhi tuntutan revolusi akan berasumsi mereka akan memerintah dalam waktu yang relatif singkat. Terlepas dari gerak mereka yang terorganisir dengan baik, usaha mereka dalam mempengaruhi dan mencoba membentuk sebuah opini publik, dan juga besarnya uang yang dikeluarkan pada prosesnya.
Saya tidak berharap rekan-rekan aktivis menaruh kepercayaan pada kepemimpinan Ikhwanul Muslimin. Mengingat saya menyadari, bahwa dalam beberapa bulan terakhir, mereka kerap mengkhianati kita. Namun saya berharap kita mempunyai kepercayaan pada kemampuan kita untuk menghentikan sebuah rezim dan membuat perubahan bagi Mesir. Faktanya, kita dapat menjadi sebuah kekuatan. Sebuah kekuatan untuk membangun era baru Mesir dengan kesetaraan, tanpa militer, dan tanpa tirani kekuasaan .
Perjalanan kita untuk meraih kebebasan sudah dimulai ; tujuannya adalah negara yang berdasar pada kebebasan, demokrasi, keadilan sosial, dan kesetaraan. Dan tidak seorangpun bisa menghentikan langkah kita. Milikilah sebuah keyakinan dalam diri dan keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki untuk mewujudkan mimpi.
*Sebuah pembelajaran politik dari refleksi Ziad al-Alimi di salah satu surat kabar Mesir, al-Masry al-Youm dan dipublikasikan kembali oleh situs Qantara. Seorang aktifis HAM yang sekarang menjabat wakil ketua parlemen dari Partai Demokrat Sosial Mesir.
**seperti yang dimuat dalam situs DPC PPP Majalengka, 31 Juli 2012

